BONUS DEMOGRAFI 2020 – 2030 TANTANGAN BAGI BNN

(oleh Mulgianto, Citra Oktora Widyawati).

Dari Tahun 2010 berbagai kalangan membicarakan tentang Bonus Demografi ( demographic Opportunity), perbincangan tersebut berdasarkan data proyeksi penduduk dan hasil sensus penduduk tahun 2010. istilah ini menjadi menarik seiring masa depan pembangunan Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar  180 juta jiwa yang produktif dan 60 juta jiwa non produktif. Proporsi tersebut menggambarkan 44 orang nonproduktif akan ditanggung oleh 100 orang produktif, beban tanggungan yang sangat rendah. Meskipun Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus Demografi tidak serta merta dapat menikmati limpahan penduduk usia produktif sebagai berkah. Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan dan tindakan nyata untuk menyabut limpahan tenaga kerja yang siap untuk mengisi berbagai pasar kerja, perlu adanya peningkatan pendidikan, Pelayanan kesehatan dan peningkatan Gizi.

 

DIMANA PERAN BNN

Berdasar data prevalensi yang dirilis BNN RI yang bekerja sama dengan puslitkes UI tahun 2015 tingkat pecandu dan penyalahgunaan Narkoba adalah 2,2 %, maka  jika asumsi tingkat penyalahgunaan konstan diangka 2,2 % maka ditahun 2030 akan ada penyalahguna narkoba sebesar 6.520.912 jiwa yang akan kecanduan narkoba jika angka proyeksi penduduk di tahun 2030 sebanyak 296.405.100 jiwa (data proyeksi penduduk indonesia 2030 sumber BPS). Dengan data tinggkat penyalahguna narkoba di kalangan pekerja konstan dikisaran angka 50,34 % maka akan ada sekitar 3.282.627 pekerja yang kecanduan. Disinilah permasalahan akan muncul, karena bonus demografi yang hanya dapat dinikmati sekali dalam peradaban suatu bangsa akan mejadi musibah karena penduduk usia kerja banyak yang tidak produktif, sehingga kemajuan ekonomi yang ditopang oleh penduduk  usia kerja tak akan berhasil karena  hanya dipenuhi oleh penduduk kecanduan narkotika dan obat – obatan telarang , pada akhirnya   menjadi beban bagi negara.

Untuk itulah peran BNN dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) lebih tepat, cepat, akurat serta jelas program serta sasarannya.  Dengan program yang jelas serta terukur akan menghasilkan capaian yang maksimal serta mudah untuk evaluasi, sehingga penyempurnaan program – program yang akan datang menjadi lebih mudah.

Maka dari itu BNN perlu memfokuskan program penyadaran tentang bahaya narkotika pada kalangan anak  didik (pelajar) mulai dari usia taman kanak – kanak hingga Perguruan Tinggi, karena persentase pada tataran pelajar serta mahasiswa tingkat penyalahgunaan lebih tinggi 4,98 % dibandingkan pengangguran. Penyalahguna ditataran tidak bekerja (pengangguran) tingkat penyalahgunaannya sebesar 22,34 % sedang di kalangan pelajar dan mahasiswa sebesar 27,32 %.  Maka di bidang pendidikan inilah peran penting BNN dalam rangka mendidik serta pemahaman bahaya penyalahgunaan Narkotika bagi peseta didik lebih  intensif. Karena peran pendidikan pada masa bunus demografi ini sangat penting sebagai modal meraih banus demografi tersebut.

Adapun untuk bidang kesehatan peran penting BNN adalah mencegah para generasi penerus bangsa untuk tidak terlibat dalam penyalahgunaan Narkotika, apalagi sebagai bandar atau pemasok barang haram tersebut yang pada giliranya akan mengganggu pola kesehatan bagi generasi bangsa. Inilah tantangan yang harus dirumuskan kedalam konsep penanganan yang jelas, serta teruji dalam aplikasi pelaksanaan lapangannya.

Serta tidak kalah pentingnya adalah penanganan bagi yang telah terperangkap dalam jeratan narkotika, untuk rehabilitasi pemulihan fungsi kesehatan bagi seorang pecandu. Disinilah tantangan BNN yang pada giliranya akan menjadi acuan pola rehabilitasi bagi lembaga – lembaga lain yang memfokuskan dalam rehabilitasi.  Akankah BNN mampu sebagai pelopor terdepan dalam metode, teknik, acuan apapun istilahnya dalam bidang rehabilitasi, jika BNN mampu dalam dua persiapan besar dalam menyambut bonus demografi yakni Pendidikan serta kesehatan maka BNN telah berperan dalam kemajuan bangsa yang hanya dapat dinikmati sekali dalam peradaban suatu bangasa, yaitu bonus demografi 2020 – 2030. (mul1juni2016)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *